← Kembali ke Beranda
📝 UJIAN TENGAH SEMESTER

Sistem Terdistribusi

Distributed Systems — Higher Order Thinking Skills (HOTS)

Informasi Ujian

Mata Kuliah Sistem Terdistribusi
Dosen Pengampu Dr. Supratman Zakir, M.Pd., M.Kom
Cakupan Materi Bab 1 – Bab 7
Jumlah Soal 20 PG + 5 Essay
Level Kognitif HOTS (C4 – C6)
Sifat Ujian Open Case Analysis

📌 Petunjuk Pengerjaan

Bagian A — Pilihan Ganda HOTS (20 Soal)

1
Bab 1
Narasi Kasus: Sebuah bank nasional memutuskan untuk memigrasi sistem transaksi tunggal (monolitik) menjadi sistem terdistribusi dengan node di 34 provinsi. Setelah migrasi, terjadi inkonsistensi saldo pada beberapa rekening ketika dua transaksi terjadi hampir bersamaan di provinsi berbeda. Manajer TI menyimpulkan bahwa sistem terdistribusi justru memperburuk reliabilitas.
Berdasarkan teori sistem terdistribusi, kesimpulan manajer TI tersebut kurang tepat karena...
  • A. Sistem terdistribusi memang tidak menjamin konsistensi data secara absolut tanpa mekanisme tambahan.
  • B. Inkonsistensi tersebut merupakan trade-off yang dapat dikelola melalui protokol konsistensi yang tepat.
  • C. Kegagalan terjadi karena implementasi, bukan karena konsep sistem terdistribusi itu sendiri.
  • D. Semua jawaban A, B, dan C benar secara teoritis.
  • E. Sistem monolitik sebenarnya lebih rentan terhadap kegagalan total dibanding terdistribusi.
2
Bab 1
Narasi Teori: Tanenbaum & Van Steen mendefinisikan sistem terdistribusi sebagai "kumpulan komputer otonom yang tampak bagi pengguna sebagai satu sistem kohesif". Transparansi adalah konsep kunci di sini.
Jika sebuah aplikasi e-commerce menyembunyikan lokasi server, migrasi data, dan kegagalan node dari pengguna, jenis transparansi apa yang TIDAK terpenuhi ketika pengguna tetap harus mengetahui bahwa data disimpan di 3 replika berbeda?
  • A. Location transparency
  • B. Migration transparency
  • C. Replication transparency
  • D. Failure transparency
  • E. Concurrency transparency
3
Bab 2
Narasi Kasus: Startup fintech "PayNusa" awalnya menggunakan arsitektur client-server terpusat. Ketika pengguna melonjak dari 10.000 menjadi 2 juta dalam 6 bulan, server pusat mengalami bottleneck. Tim engineering mempertimbangkan migrasi ke arsitektur peer-to-peer untuk fitur transfer antar pengguna.
Evaluasi manakah yang paling kritis sebelum memutuskan migrasi ke P2P?
  • A. P2P menghilangkan kebutuhan akan server, sehingga biaya operasional pasti turun drastis.
  • B. P2P menyulitkan audit transaksi dan kepatuhan regulasi OJK karena tidak ada otoritas pusat.
  • C. P2P selalu lebih skalabel daripada client-server dalam semua skenario.
  • D. P2P menjamin latensi lebih rendah karena tidak melalui server pusat.
  • E. P2P lebih aman secara inheren karena data terdistribusi ke banyak node.
4
Bab 2
Narasi Kasus: Sebuah sistem IoT smart city memiliki 50.000 sensor yang mengirim data ke cloud. Arsitektur 3-tier (presentation-application-data) yang digunakan menyebabkan latensi tinggi untuk respons kritis seperti deteksi kebakaran.
Solusi arsitektural manakah yang paling tepat untuk mengurangi latensi respons kritis?
  • A. Menambah jumlah server cloud untuk load balancing.
  • B. Menerapkan edge computing dengan pemrosesan di gateway lokal sebelum ke cloud.
  • C. Mengganti arsitektur 3-tier menjadi arsitektur berlapis (layered) yang lebih banyak.
  • D. Menggunakan arsitektur berbasis objek dengan CORBA.
  • E. Mengimplementasikan replikasi data di setiap sensor.
5
Bab 3
Narasi Kasus: Sistem reservasi tiket kereta api menggunakan RPC (Remote Procedure Call) untuk memanggil fungsi `bookSeat()` di server pusat. Ketika jaringan antara stasiun dan server pusat terputus selama 30 detik, 150 transaksi booking gagal tanpa konfirmasi apakah seat benar-benar ter-book atau tidak.
Masalah mendasar RPC yang terungkap dari kasus ini adalah...
  • A. RPC tidak mendukung komunikasi asinkron.
  • B. RPC menyembunyikan kegagalan jaringan sehingga caller tidak bisa membedakan antara "gagal kirim" dan "gagal eksekusi".
  • C. RPC hanya bekerja pada jaringan LAN.
  • D. RPC tidak bisa memanggil fungsi yang memiliki parameter kompleks.
  • E. RPC mengharuskan server dan client menggunakan bahasa pemrograman yang sama.
6
Bab 3
Narasi Kasus: Aplikasi chat group dengan 500 anggota membutuhkan pengiriman pesan ke semua anggota secara bersamaan. Developer awalnya menggunakan unicast beruntun (mengirim 500 pesan satu per satu), yang menyebabkan delay 15 detik untuk pesan sampai ke anggota terakhir.
Mekanisme komunikasi manakah yang paling efisien untuk kasus ini, dan apa tantangan utamanya?
  • A. Multicast — tantangan: menjamin semua node menerima pesan (reliable multicast).
  • B. Broadcast — tantangan: boros bandwidth karena dikirim ke seluruh jaringan.
  • C. Anycast — tantangan: hanya satu node yang menerima, tidak semua.
  • D. RPC beruntun — tantangan: latency tinggi seperti kasus awal.
  • E. Message queue — tantangan: memerlukan broker tambahan.
7
Bab 3
Narasi Teori: Dalam message passing, terdapat dua model: persistent (asinkron) dan non-persistent (sinkron). Pada sistem banking, transfer dana menggunakan model tertentu untuk menjamin atomicity.
Mengapa sistem transfer dana tidak cocok menggunakan message passing asinkron murni tanpa mekanisme tambahan?
  • A. Karena asinkron selalu lebih lambat daripada sinkron.
  • B. Karena pengirim tidak mendapat konfirmasi bahwa pesan diterima dan diproses, berisiko dana hilang.
  • C. Karena message passing asinkron tidak mendukung enkripsi.
  • D. Karena asinkron hanya bekerja pada jaringan lokal.
  • E. Karena asinkron mengharuskan receiver selalu online.
8
Bab 4
Narasi Kasus: Sebuah layanan pemerintah membangun API untuk integrasi data antar kementerian. Tim A mengusulkan REST API dengan JSON, Tim B mengusulkan SOAP dengan XML dan WS-Security. Debat terjadi karena data yang dipertukarkan bersifat sensitif dan memerlukan transaksi ACID.
Argumen paling kuat yang mendukung pemilihan SOAP dalam kasus ini adalah...
  • A. SOAP lebih ringan dan cepat daripada REST.
  • B. SOAP memiliki standar built-in untuk security (WS-Security), reliability (WS-ReliableMessaging), dan transaction (WS-Transaction).
  • C. SOAP lebih mudah di-debug daripada REST.
  • D. REST tidak mendukung HTTP.
  • E. SOAP hanya menggunakan JSON sehingga lebih fleksibel.
9
Bab 4
Narasi Kasus: Sebuah startup e-commerce menggunakan REST API dengan stateless design. Setiap request dari mobile app harus mengirim token JWT dan lengkap dengan semua informasi yang dibutuhkan. Seorang developer mengeluh bahwa payload request menjadi besar dan redundan.
Trade-off dari desain stateless REST yang paling tepat dianalisis sebagai...
  • A. Stateless mengurangi skalabilitas karena server harus menyimpan session.
  • B. Stateless meningkatkan skalabilitas dan fault tolerance, namun mengorbankan efisiensi bandwidth.
  • C. Stateless membuat sistem lebih rentan terhadap kegagalan server.
  • D. Stateless hanya cocok untuk aplikasi desktop, bukan mobile.
  • E. Stateless mengharuskan penggunaan database relational.
10
Bab 4
Narasi Kasus: Sistem pembayaran menggunakan TCP untuk komunikasi. Ketika terjadi congestion di jaringan, TCP melakukan retransmisi dan flow control. Seorang engineer mengusulkan mengganti ke UDP untuk meningkatkan kecepatan transaksi.
Analisis risiko paling kritis dari penggantian TCP ke UDP pada sistem pembayaran adalah...
  • A. UDP tidak mendukung enkripsi sehingga data pembayaran bisa dibaca pihak ketiga.
  • B. UDP tidak menjamin delivery, ordering, dan integrity — transaksi bisa hilang tanpa diketahui.
  • C. UDP hanya bekerja pada IPv6.
  • D. UDP lebih lambat dari TCP karena overhead header lebih besar.
  • E. UDP tidak bisa digunakan untuk komunikasi client-server.
11
Bab 5
Narasi Kasus: Sistem log terdistribusi dengan 10 server mencatat timestamp kejadian menggunakan clock lokal masing-masing server. Ketika terjadi insiden keamanan, tim forensik menemukan bahwa log menunjukkan "serangan dari Server A" terjadi sebelum "login admin di Server B", padahal sebenarnya terjadi sebaliknya karena clock Server A lebih cepat 5 menit.
Solusi manakah yang paling fundamental untuk mengatasi masalah ini?
  • A. Menggunakan timestamp dari client yang mengirim request.
  • B. Mengimplementasikan Logical Clock (Lamport Clock) atau sinkronisasi NTP untuk ordering event.
  • C. Menyimpan semua log di satu server pusat saja.
  • D. Menonaktifkan clock lokal dan menggunakan waktu manual.
  • E. Menggunakan GPS timestamp di setiap server.
12
Bab 5
Narasi Teori: Algoritma Mutual Exclusion terdistribusi seperti Ricart-Agrawala menggunakan message passing untuk mengkoordinasi akses ke critical section. Bandingkan dengan pendekatan token-based seperti Token Ring.
Dalam skenario dengan 100 node yang sering mengakses critical section, kelemahan utama Token Ring dibanding Ricart-Agrawala adalah...
  • A. Token Ring membutuhkan lebih banyak pesan per permintaan (O(N) vs O(1)).
  • B. Token Ring memiliki overhead token circulation bahkan saat tidak ada yang meminta akses, dan token loss sulit dideteksi.
  • C. Token Ring tidak bisa menjamin mutual exclusion.
  • D. Token Ring hanya bekerja pada topologi bus.
  • E. Token Ring membutuhkan server pusat untuk distribusi token.
13
Bab 5
Narasi Kasus: Sistem election leader menggunakan algoritma Bully. Node dengan ID tertinggi menjadi coordinator. Ketika coordinator crash, node dengan ID tertinggi berikutnya mengambil alih. Namun, node yang crash kemudian recovery dan mengklaim kembali sebagai coordinator, menyebabkan "coordinator churn".
Dampak paling merugikan dari coordinator churn pada sistem terdistribusi adalah...
  • A. Meningkatnya konsumsi listrik server.
  • B. Hilangnya state sementara dan potensi inkonsistensi selama transisi kepemimpinan berulang.
  • C. Penurunan kecepatan jaringan secara permanen.
  • D. Kerusakan hardware pada node yang recovery.
  • E. Penghapusan otomatis data di semua node.
14
Bab 6
Narasi Kasus: Sistem e-commerce menggunakan replikasi data produk di 5 region. Ketika harga produk diubah di region Asia, perubahan tersebut butuh 30 detik untuk propagate ke region Eropa. Seorang user di Eropa melihat harga lama dan melakukan checkout, sementara user di Asia melihat harga baru.
Model konsistensi manakah yang paling tepat diterapkan untuk kasus harga produk, dan mengapa?
  • A. Strong consistency — karena harga harus sama di semua region secara real-time untuk fairness.
  • B. Eventual consistency — karena perbedaan harga sementara dapat ditoleransi dan lebih scalable.
  • C. Causal consistency — karena hanya update yang saling berkaitan yang perlu diorder.
  • D. Session consistency — karena setiap user hanya perlu konsistensi dalam sessinya sendiri.
  • E. Monotonic read — karena user tidak perlu melihat versi lama setelah melihat versi baru.
15
Bab 6
Narasi Kasus: Database terdistribusi menggunakan replikasi master-slave. Master crash, dan slave dipromosikan menjadi master baru. Namun, beberapa write yang belum ter-replikasi dari master lama hilang.
Strategi manakah yang paling efektif untuk meminimalkan data loss pada skenario ini?
  • A. Menggunakan replikasi sinkron dengan quorum write (misal: W + R > N).
  • B. Menambah jumlah slave menjadi 20.
  • C. Melakukan backup manual setiap jam.
  • D. Menggunakan replikasi asinkron untuk performa lebih baik.
  • E. Menonaktifkan replikasi dan menggunakan single node.
16
Bab 6
Narasi Teori: Teorema CAP menyatakan bahwa sistem terdistribusi hanya bisa memenuhi 2 dari 3 properti: Consistency, Availability, Partition Tolerance. Ketika network partition terjadi, sistem harus memilih antara C atau A.
Untuk sistem pembayaran digital (seperti e-wallet), pilihan CAP yang paling tepat adalah...
  • A. AP — karena ketersediaan lebih penting daripada konsistensi.
  • B. CP — karena konsistensi saldo lebih kritis; lebih baik menolak transaksi saat partition daripada saldo salah.
  • C. CA — karena partition tolerance bisa diabaikan dengan jaringan yang handal.
  • D. CAP semua — dengan hardware yang cukup mahal.
  • E. Tidak ada yang tepat — sistem pembayaran tidak bisa menggunakan teorema CAP.
17
Bab 7
Narasi Kasus: Sistem airline reservation menggunakan checkpointing untuk fault tolerance. Setiap 10 menit, state sistem disimpan. Ketika server crash, sistem di-restore dari checkpoint terakhir. Namun, 8 menit transaksi sebelum crash hilang dan harus di-replay dari log.
Analisis trade-off yang paling tepat dari strategi checkpointing ini adalah...
  • A. Interval checkpoint lebih pendek mengurangi data loss namun meningkatkan overhead I/O.
  • B. Interval checkpoint lebih panjang selalu lebih baik karena menghemat storage.
  • C. Checkpointing tidak perlu dikombinasikan dengan log karena redundan.
  • D. Checkpointing hanya efektif untuk crash software, bukan hardware.
  • E. Checkpointing menjamin zero data loss dalam semua skenario.
18
Bab 7
Narasi Kasus: Sistem cloud menggunakan redundansi aktif (active-active) untuk database. Dua node memproses write secara paralel. Ketika terjadi konflik write pada record yang sama, sistem menggunakan "last writer wins" (LWW) berdasarkan timestamp.
Kelemahan fundamental dari strategi LWW pada sistem dengan clock yang tidak tersinkronisasi sempurna adalah...
  • A. LWW membutuhkan storage 2x lebih besar.
  • B. LWW bisa menyebabkan write yang sah secara kausal tertimpa oleh write yang timestamp-nya lebih tinggi karena clock skew.
  • C. LWW hanya bekerja pada data numerik.
  • D. LWW mengharuskan semua node dalam satu data center.
  • E. LWW tidak mendukung read operation.
19
Bab 7
Narasi Kasus: Sistem voting elektronik menggunakan Byzantine Fault Tolerance (BFT) karena beberapa node mungkin berperilaku malicious (bukan hanya crash). Protokol BFT yang digunakan membutuhkan 3f+1 node untuk toleransi f node faulty.
Jika sistem ingin mentoleransi 3 node malicious, berapa minimum node yang dibutuhkan, dan mengapa lebih banyak daripada crash fault tolerance?
  • A. 7 node — karena node malicious bisa memberikan jawaban salah yang terkoordinasi, butuh mayoritas yang lebih besar.
  • B. 10 node — karena 3f+1 = 3(3)+1 = 10; node malicious lebih berbahaya dari crash.
  • C. 6 node — karena 2f+1 cukup untuk BFT.
  • D. 4 node — karena hanya perlu satu lebih banyak dari faulty node.
  • E. 12 node — karena setiap faulty node butuh 4 node sehat.
20
Bab 1-7 (Integratif)
Narasi Kasus Integratif: Sebuah rumah sakit membangun Sistem Informasi Kesehatan terdistribusi yang menghubungkan 50 puskesmas. Sistem harus: (1) tersedia 24/7, (2) data pasien konsisten, (3) tahan terhadap kegagalan jaringan antar pulau, (4) respons cepat untuk emergency. Tim arsitek menghadapi dilema desain.
Keputusan arsitektural manakah yang paling komprehensif dan beralasan teoritis kuat?
  • A. Menggunakan single centralized database dengan backup harian — paling sederhana dan konsisten.
  • B. Arsitektur hybrid: data emergency di-replikasi sinkron (CP) untuk konsistensi, data historis menggunakan eventual consistency (AP) untuk availability, dengan edge node di setiap puskesmas.
  • C. Full peer-to-peer tanpa server pusat — maksimal availability.
  • D. Menggunakan blockchain untuk semua data pasien — menjamin immutability.
  • E. Semua data disimpan di cloud publik tanpa replikasi lokal — paling hemat biaya.

📝 Bagian B — Essay HOTS (5 Soal)

1
Bab 1 & 2
Kasus: Pemerintah Indonesia berencana membangun Sistem Kesehatan Nasional terdistribusi yang menghubungkan 10.000 faskes dari Sabang sampai Merauke. Beberapa anggota DPR mengusulkan sistem terpusat saja karena "lebih mudah diawasi".
Analisislah minimal 4 keunggulan dan 3 tantangan sistem terdistribusi dibanding terpusat untuk kasus ini. Berikan argumen teoritis disertai contoh konkret bagaimana setiap tantangan dapat dimitigasi!
[Ruang Jawaban — minimal 200 kata]
2
Bab 3 & 4
Kasus: Anda diminta merancang arsitektur komunikasi untuk aplikasi telemedicine yang mendukung: (a) konsultasi video real-time, (b) pengiriman rekam medis besar, (c) notifikasi hasil lab, (d) monitoring IoT alat kesehatan.
Rancanglah strategi komunikasi yang tepat untuk keempat skenario tersebut. Jelaskan pilihan protokol (TCP/UDP, REST/SOAP/gRPC, multicast/unicast) untuk masing-masing skenario beserta justifikasi berdasarkan karakteristik QoS (latency, reliability, bandwidth)!
[Ruang Jawaban — sertakan diagram alur komunikasi]
3
Bab 5 & 6
Kasus: Sebuah platform trading cryptocurrency mengalami masalah: user A di Jakarta menjual Bitcoin pada harga X, user B di London membeli pada harga X-5 (harga lama) karena replikasi harga belum sampai. Arbitrageur mengeksploitasi delay ini berulang kali, merugikan platform miliaran rupiah.
(a) Identifikasi akar masalah dari perspektif sinkronisasi clock dan model konsistensi.
(b) Usulkan solusi komprehensif yang mencakup algoritma sinkronisasi, model konsistensi, dan mekanisme tambahan. Jelaskan trade-off dari solusi Anda!
[Ruang Jawaban — analisis mendalam dengan referensi teori]
4
Bab 6 & 7
Kasus: Sistem e-government untuk pemilu harus menjamin: (1) setiap suara tercatat tepat sekali (exactly-once), (2) tersedia selama masa pemilu, (3) tahan terhadap serangan pada sebagian node, (4) hasil bisa diaudit publik.
Bandingkan penerapan replikasi data dan fault tolerance pada sistem pemilu dengan sistem e-commerce biasa. Mengapa pendekatan yang sama tidak bisa digunakan? Rancang arsitektur fault-tolerant yang sesuai dengan kebutuhan unik sistem pemilu!
[Ruang Jawaban — minimal 250 kata dengan diagram arsitektur]
5
Bab 1-7 (Integratif)
Kasus: Anda adalah Chief Architect di sebuah unicorn fintech. CEO meminta Anda merancang sistem pembayaran generasi berikutnya yang akan melayani 100 juta pengguna di Asia Tenggara dengan karakteristik: latensi < 100ms, availability 99.999%, compliant dengan regulasi 10 negara, hemat energi (eco-friendly), dan tahan terhadap bencana alam.
Buatlah blueprint arsitektur komprehensif yang mengintegrasikan konsep dari Bab 1-7:
  • Pilihan arsitektur (Bab 2)
  • Strategi komunikasi (Bab 3-4)
  • Mekanisme sinkronisasi (Bab 5)
  • Model konsistensi & replikasi (Bab 6)
  • Strategi fault tolerance (Bab 7)
Jelaskan bagaimana setiap pilihan saling mendukung dan trade-off yang Anda terima. Sertakan pula pertimbangan eco-friendly dalam desain Anda!
[Ruang Jawaban — essay komprehensif minimal 400 kata]

Good Luck!

"Teknologi terdistribusi yang baik bukan hanya tentang performa,
tetapi juga tentang keberlanjutan dan tanggung jawab."

— Dr. Supratman Zakir, M.Pd., M.Kom